Lukisan Hatshepsut, seorang raja perempuan Mesir Kuno, sedang memberikan makanan ke Dewa Horus. (Ann Ronan Pictures/Print Collector/Getty Images)

Gender sebagai Konstruksi Sosial: Sejarah Perkembangan Keberagaman dan Diskriminasi

Tulisan ini ditulis sebagai materi pembahasan dalam diskusi “Area Gimmick: Gender and Sexual Orientation” yang diadakan oleh Area Gimmick di Google Meet pada 7 & 8 Februari lalu. Sebagai penulis, saya menerima berbagai kritik, saran, maupun sanggahan agar penulisan dan pandangan saya untuk tulisan-tulisan berikutnya bisa menjadi lebih baik.

Tulisan ini tersedia dalam format PDF, klik di sini untuk download.



Banyak orang yang masih menganggap bahwa konsep perbedaan gender dan jenis kelamin merupakan konsep baru. Padahal, gender dan keberagamannya dalam sejarah dunia bukan sebuah konsep baru. Bila ditilik hingga 35.000 tahun lalu, gender sebagai ciri-ciri yang dilekatkan pada laki-laki (maskulin) dan perempuan (feminin) diperkirakan sudah muncul sejak masa-masa memasuki era Paleolitikum Lanjut.[1] Kesadaran manusia akan gender sebagai identitas pada masa itu bisa dilihat dari karya-karya seni prahistoris seperti ukiran-ukiran dan seni-seni gua.

Peninggalan-peninggalan Paleolitikum menunjukkan bahwa pada masa itu manusia melekatkan gender dengan karakteristik tubuh dan atribut-atribut tertentu. Contohnya seperti ukiran Venus von Willendorf yang menunjukkan bahwa gender perempuan pada masa Paleolitikum dilekatkan dengan ciri-ciri memiliki payudara besar dan rambut dikepang.[2] Namun, tidak jarang juga arkeolog menemukan peninggalan Paleolitikum seperti ukiran Dogon Nommo yang menggambarkan figur manusia dengan perpaduan karakteristik seksual laki-laki dengan perempuan (memiliki penis, namun memiliki payudara).[3] Melalui peninggalan-peninggalan tersebut, dapat dilihat bahwa konstruksi gender pada masa Paleolitikum tidak seperti binerisme gender yang memandang gender hanya sebatas laki-laki dan perempuan.

Akar dari binerisme gender muncul pada masa Neolitikum, yang mana pada masa tersebut mereka membentuk pembagian peran antara laki-laki dan perempuan (gender role). Ketika manusia mulai beralih dari sistem komunal primitif ke sistem kepemilikan pribadi (private property), keluarga inti (nuclear family) dipandang sebagai pengelola tanah dan harus memiliki banyak anak agar mendapatkan tenaga kerja. Karena kemunculan sistem private property ini, muncullah pembagian kerja yang mana seorang ayah (laki-laki) ditugaskan untuk bekerja, sedangkan seorang ibu (perempuan) untuk melahirkan dan mengasuh anak-anak serta melayani suaminya setelah suaminya itu selesai bekerja – diperkirakan menjadi penyebab munculnya anggapan “perempuan lebih baik di rumah saja”. Posisi perempuan semakin terpinggirkan ketika peradaban manusia memunculkan spesialisasi pekerjaan, pemisahan desa dengan kota, produksi barang dagangan sudah semakin maju, dan adanya kelas sosial.[4]

Feminis menyebut kemunculan nuclear family dan private property sebagai akar dari penindasan terhadap perempuan dan LGBT. Perempuan yang tidak ingin memiliki anak dan mengurus rumah tangga mendapatkan stigma karena dianggap melawan dan merugikan laki-laki, sementara orang-orang homoseksual dan transeksual distigma karena mereka bukan penghasil tenaga kerja. Sementara, kedudukan laki-laki semakin dominan karena hak waris berada di tangan laki-laki. Para feminis menyebut ini sebagai sistem patriarki, di mana patriarki didefinisikan sebagai sebuah sistem yang memposisikan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan, dominan di atas gender lain.

Keberagaman Gender Paska Kemunculan Patriarki

Walaupun sistem patriarki sudah muncul sejak Neolitikum, keberagaman gender tidak serta-merta hilang. Perlawanan perempuan dan LGBT terhadap  norma patriarkis pada saat itu dapat dilihat dari keberanian mereka mengambil peran dan mengekspresikan diri. Namun, adanya stigma-stigma terhadap perempuan dan LGBT akibat kemunculan patriarki membuat orang-orang dengan gender di luar heteronormativitas tidak bebas dari diskriminasi dan kebencian. Hal ini membuat orang-orang queer yang memberanikan diri menjadi “diri sendiri” dihadapkan dengan tantangan-tantangan.

Dalam catatan sejarah paska kemunculan patriarki, salah satu perempuan di masa lalu yang terkenal dalam keberanian menyandang peran laki-laki dan penampilan maskulin adalah Hatshepsut (1508 SM – 1458 SM). Ia merupakan seorang firaun perempuan pertama setelah selama 300 tahun posisi firaun selalu dipegang oleh laki-laki sejak wafatnya Sobekneferu (1802 SM). Berbeda dengan Sobekneferu yang hanya menjadi firaun selama hampir 4 tahun, Hatshepsut memimpin bangsa Mesir kuno selama 21 tahun (lebih lama dari firaun-firaun perempuan sebelumnya). Ia juga terkenal dengan penampilannya seperti firaun laki-laki, yaitu dengan mengenakan jenggot palsu, pakaian dan hiasan kepala laki-laki untuk menunjukkan martabatnya sebagai raja.[5]

Sejarah mencatat bahwa perempuan di Mesir Kuno mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki dalam kepemilikan properti dan diperlakukan setara dalam pengadilan. Namun, Mesir Kuno adalah masyarakat yang didominasi oleh laki-laki dan juga patriarkal. Perempuan tidak bisa menduduki posisi penting dalam pemerintahan, meski ada pejabat perempuan dan bahkan firaun perempuan. Sedangkan, para perempuan di istana atau pengadilan kerajaan mendapatkan posisi melalui hubungan mereka dengan raja laki-laki.[6] Dalam masyarakat Mesir Kuno juga sudah ada pandangan bahwa anak laki-laki lebih didorong untuk sukses daripada perempuan dan firaun laki-laki lebih diidamkan.[7]

Sementara itu, di India terdapat kelompok hijra yang oleh masyarakat dikategorikan sebagai gender ketiga. Mereka adalah orang-orang yang terlahir laki-laki, namun berpenampilan dan berperilaku feminin serta melakukan emaskulasi (pemotongan penis dan testis). Dalam masyarakat, mereka berperan sebagai pemimpin upacara adat/keagamaan, sementara sebagian lagi menjadi orang kasim atau pekerja seks. Catatan kuno Kama Sutra (400 – 300 SM) menunjukkan bahwa keberadaan kelompok hijra sudah lama hadir dalam masyarakat India. Mereka selama bertahun-tahun dihormati sebagai figur yang memegang peranan penting dalam keagamaan dan pemerintahan, namun tidak pernah tercatat ada pemerintahan di India yang pernah dipimpin oleh orang dari kalangan hijra. Sedangkan dalam masyarakat India modern (paska kependudukan Inggris), para hijra dihadapkan diskriminasi mulai dari penolakan keluarga, pembatasan akses pendidikan dan kesehatan, hingga kriminalisasi.[8]

Selain India, Thailand juga memiliki keberagaman gender di luar binerisme gender. Keberagaman gender di Thailand diperkirakan sudah ada jauh sebelum agama Buddha masuk ke wilayah itu. Figur nonbinary sudah muncul dalam sastra pra-Buddha seperti Pathamulamuli, yang menceritakan seorang non-binary membunuh seorang laki-laki agar dapat menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Dalam sastra Thailand pra-Buddha, figur non-binary sering digambarkan negatif karena dianggap sebagai pelaku pembunuhan pertama di dunia.[9]

Berbeda dengan masyarakat India modern, masyarakat Thailand hingga saat ini sangat menoleransi keberadaan keberagaman gender. Keberadaan tom (ทอม, orang yang terlahir perempuan namun berpenampilan dan berperilaku maskulin) dan kathoey (กะเทย, orang yang terlahir laki-laki namun berpenampilan dan berperilaku feminin) menjadi hal yang umum di Thailand, bahkan Thailand memiliki banyak identitas/label gender. Selain diasosiasikan dengan ekspresi gender, label gender di Thailand diasosiasikan dengan seksualitas mereka (contohnya dee (ดี้), adalah label gender untuk perempuan feminin yang lesbian dan biseksual).[10] Walaupun tidak mendapatkan persekusi, ruang sosial untuk minoritas gender seringkali dibatasi.[11] Para transpuan juga sering mengalami pelecehan dan diskriminasi di tempat kerja.[12]

Keberagaman Gender di Indonesia

Banyak wilayah di Indonesia yang masyarakatnya sudah mengenal keberadaan individu tomboy (perempuan maskulin) dan waria (orang yang terlahir laki-laki, namun berpenampilan dan berperan sebagai perempuan). Walaupun keberadaan mereka sudah ada sejak dulu, mereka tidak lepas dari diskriminasi. Hal ini dikarenakan banyaknya orang yang menganggap bahwa transgender dan gender di luar binerisme gender bertentangan dengan budaya Indonesia dan kodrat sebagai manusia. Padahal, berbagai catatan sejarah dan peninggalan kebudayaan menunjukkan bahwa keberagaman gender sudah lama hadir dalam budaya dan masyarakat Indonesia.

Dalam kebudayaan Jawa, terdapat Tari Lengger Lanang yang membuktikan bahwa keberadaan wandu (laki-laki feminin) dalam masyarakat Jawa sudah ada sejak lama. Tari Lengger Lanang sendiri adalah sebuah tarian yang dibawakan oleh laki-laki dengan dandanan perempuan, atau oleh masyarakat Jawa disebut wandu. Tarian ini berasal dari Banyumas, yang mana penemuan kesenian Lengger Lanang di Banyumas dapat ditemukan dalam Surat Centhini. Sayangnya, kesenian Lengger Lanang sudah mulai ditinggalkan lantaran kesenian Lengger dewasa ini lebih sering dibawakan oleh perempuan, lalu lebih dikenal dengan nama Ronggeng.[13]

Di masyarakat Bugis, keberagaman gender di luar binerisme gender sudah ada sejak era pra-Islam. Mereka mengelompokkan gender menjadi 5 kelompok, yaitu: oroane (laki-laki maskulin), makkunrai (perempuan feminin), calalai (terlahir perempuan, namun berpenampilan maskulin dan mengambil peran laki-laki), calabai (terlahir laki-laki, namun berpenampilan feminin dan mengambil peran perempuan), dan bissu (nonbinary, gender tertinggi).[14]  Seorang bissu bisa berasal dari kalangan laki-laki feminin maupun perempuan maskulin, mereka berperan sebagai pemimpin upacara adat untuk menghubungkan manusia dengan dewata.[15]

Namun, populasi bissu dalam masyarakat Bugis modern kian menyusut lantaran meningkatnya diskriminasi dan persekusi terhadap mereka.[16] Pada masa  pemberontakan  DI/TII Kahar  Muzakkar  (1950), melalui Operasi Toba (Operasi Tobat), para bissu ditangkap dan alat-alat upacara mereka dibakar karena dianggap melanggar agama Islam. Ketika memasuki Orde Baru, para bissu saat itu dipaksa memeluk agama Islam dan menjadi laki-laki maskulin.[17] Tidak berhenti di situ, di tahun 2017, Pekan Olahraga dan Seni  (Porseni) Waria/Bissu se-Sulawesi Selatan dibubarkan paksa dan mendapatkan ancaman dari aparat kepolisian.[18]

Tidak hanya bissu, kelompok LGBT secara umum di Indonesia juga mendapatkan diskriminasi dan persekusi. Berdasarkan catatan LBH Masyarakat, tercatat selama tahun 2019 terdapat 117 kasus perlakuan diskriminatif dan ujaran stigmatif dalam media-media Indonesia.[19] Di tahun 2018, LBH juga mencatat terdapat 110 kasus praktik diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok LGBT, dengan jumlah korban 234 orang.[20] Publikasi LBH Masyarakat ini berdasarkan pengumpulan data-data kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap LGBT dengan metode pemantauan dan pencatatan berita-berita terkait LGBT melalui media daring. Artinya, jumlah kasus praktik diskriminasi dan kekerasan terhadap LGBT bisa saja lebih banyak dari itu.

Dikutip dari situs web GHSR Udayana, menurut Halim (2019) dalam laporannya #HidupTransBermakna, terjadi peningkatan kasus pembunuhan transpuan dari 2014 -2019 dengan jumlah terendah 2 kasus pada 2014 dan tertinggi 6 kasus pada 2019. Ini tidak termasuk kasus-kasus penganiyaan terhadap transpuan yang tidak tercatat dalam laporan. Ekspetasi gender normatif juga membuat banyak transpuan mendapatkan penolakan dari keluarga. Mereka juga sulit mendapatkan pekerjaan di sektor formal karena stigma dan keterbatasan akses pendidikan akibat perisakan.[21]

Pembongkaran Stigma dalam Keilmuan

Selama bertahun-tahun, individu-individu queer terutama transgender dan orang-orang dengan gender non-conforming dihadapkan dengan diskriminasi dan stigma. Mereka dianggap sebagai orang-orang dengan gangguan jiwa dan menyimpang dari kodrat. Identitas gender orang-orang transgender, terlebih jika mereka belum melakukan operasi kelamin, seringkali diinvalidasi karena identitas gender mereka berbeda dengan gender mereka saat lahir (assigned gender at birth/AGAB). Namun, penemuan-penemuan terbaru dalam penelitian biologi dan perkembangan ilmu psikologi membantu dalam membongkar stigma dan melawan diskriminasi.

Literatur kedokteran pada penghujung abad ke-19 menyebut perempuan yang tidak menyesuaikan dirinya dengan peran gendernya sebagai invert. Pada dekade pertama abad ke-20, dokter memaksa terapi pembetulan bagi perempuan dan anak-anak dengan kondisi tersebut, yang menunjukkan bahwa perilaku gender yang tidak sesuai dengan norma. Tujuan dari terapi seperti itu adalah untuk mendorong anak kembali ke peran gender mereka yang “benar” sehingga membatasi kemungkinan kondisi transgender.[22]

Kalangan psikolog mulai mempelajari perkembangan gender di anak-anak usia dini salah satunya sebagai upaya untuk mengetahui asal dari homoseksualitas yang pada saat itu dipandang sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Gender Identity Research Project didirikan pada tahun 1958 di UCLA Medical Center bagi penelitian terhadap individu interseks dan transseksual. Robert Stoller banyak memberi pernyataan umum temuan-temuan dari proyek penelitian tersebut tersebut di dalam bukunya Sex and Gender: On the Development of Masculinity and Femininity (1968). Ia juga dicatat sebagai yang pertama kali memperkenalkan istilah identitas gender kepada Kongres Psikoanalisis Internasional di Stockholm, Swedia tahun 1963.

Identitas gender diperkenalkan ke dalam leksikon profesional oleh Hooker dan Stoller hampir bersamaan pada awal 1960-an. Misalnya, Stoller (1964) menggunakan istilah yang sedikit berbeda, core gender identity (identitas gender inti) untuk menggambarkan perkembangan anak usia dini dalam perasaan yang mendalam terhadap jenis kelamin (fundamental sense of belonging to sex). Istilah ini kemudian dipakai oleh psikolog perkembangan kognitif seperti Kohlberg (1966) yang mendefinisikan identitas gender sebagai kemampuan anak dalam membedakan laki-laki dengan perempuan lalu mengidentifikasi status gender mereka secara tepat.[23]

Psikolog asal Selandia Baru, John Money mengemukakan teori bahwa pembentukan identitas gender dipengaruhi oleh pengasuhan.[24] Sayangnya teori ini terbantahkan oleh Milton Diamond, seorang psikolog yang berhasil membongkar kegagalan eksperimen lanjutan Money. David Reimer (atau juga disebut John/Joan), seorang laki-laki yang mengalami kerusakan penis permanen setelah kegagalan operasi phimosis pada usia usia bayi, kemudian menjalani operasi kelamin menjadi perempuan dan dididik sebagai perempuan oleh saran John Money. Namun ternyata, Joan hingga remaja tetap merasa dirinya laki-laki, dan kemudian memutuskan menjadi laki-laki – yang mana hal ini membuktikan bahwa psikoseksual manusia tidak  “netral” saat lahir dan identitas gender tidak dipengaruhi oleh pengasuhan.[25]

Beberapa temuan ilmuwan biologi menunjukkan bahwa identitas gender seseorang dipengaruhi faktor biologis. Dalam biologi sendiri, struktur otak pada hipotalamus (tempat produksi hormon sistem reproduksi dan metabolisme) terdapat perbedaan antara laki-laki (atau individu maskulin) dan perempuan (atau individu feminin).[26] Proses maskulinisasi (pembentukan karakteristik laki-laki) dan femininasi (pembentukan karakteristik perempuan) dalam pembentukan genitalia dan otak selama perkembangan janin bisa terjadi secara independen sehingga femininasi dan maskulinisasi pada otak dan genitalia bisa saja berbeda. Jika karakteristik gender pada otak berbeda dengan karakteristik kelamin primer, maka ini dapat menimbulkan transgenderisme.[27]

Selain identitas gender, ada juga istilah ekspresi gender yang didefinisikan sebagai perilaku dan penampilan yang dilekatkan dengan gender dalam konteks budaya tertentu, khususnya kategori maskulinitas dan feminitas. Ekspresi gender biasanya mencerminkan identitas gender seseorang, tetapi tidak selalu. Ekspresi gender terpisah dan independen baik dari orientasi seksual dan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Ketika identitas gender seseorang berbeda dengan ekspresi gendernya karena penampilan dan perilakunya berlainan dengan standar maskulinitas dan feminitas dalam budaya, maka ini disebut gender non-conforming.

Transgenderisme dan gender non-conforming sempat dianggap kelainan sebagai gender identity disorder dalam DSM hingga edisi keempat. Namun dalam DSM V, American Psychiatric Association menyatakan bahwa transgenderisme dan gender non-conforming bukan gangguan jiwa. Begitupun untuk menjelaskan ketidaknyamanan seseorang terhadap identitas gendernya yang berbeda dengan gender yang ditetapkan saat lahir, DSM V mengganti istilah gender identity disorder dengan istilah gender dysphoria.[28] Revisi dalam DSM V menjadi dasar dalam perundang-undangan berbagai negara untuk melarang terapi konversi bagi individu queer, terlebih setelah munculnya temuan-temuan baru bahwa diskriminasi terhadap queer berdampak negatif  pada psikologis.

Kampanye Inklusivitas SOGIESC: Tantangannya dalam Lingkungan Queer dan Gerakan Feminis

Pada tahun 1989, feminis Kimberlé Crenshaw memperkenalkan konsep interseksionalitas, yaitu kajian tentang titik temu atau hubungan antara segala sistem atau bentuk penindasan, dominasi atau diskriminasi. Konsep interseksionalitas menunjukkan bahwa berbagai kategori biologis, sosial dan budaya seperti gender, ras, kelas, kemampuan, orientasi seksual, agama, kasta, dan sumbu lainnya terkait identitas saling berinteraksi, memberikan kontribusi terhadap kesenjangan sosial dan ketidakadilan yang sistematis. Interseksionalitas menyatakan bahwa konseptualisasi klasik penindasan dalam masyarakat, seperti rasisme, seksisme, bifobia, homofobia, transfobia, dan juga kefanatikan terhadap kepercayaan, tidak bertindak secara independen satu sama lain, melainkan bentuk-bentuk penindasan tersebut saling berhubungan, menciptakan sistem penindasan yang mencerminkan “persimpangan” dari berbagai bentuk diskriminasi.[29]

Munculnya konsep interseksionalitas dalam feminisme melahirkan gerakan feminis gelombang keempat, yang mana konsep tersebut menjadi kunci dalam gelombang ini. Dalam feminisme gelombang keempat, gerakan feminis memperjuangkan hak-hak keadilan reproduksi, dukungan terhadap plus-size fashion, penerimaan pekerjaan seks, dan juga dukungan untuk hak-hak transgender.[30] Gelombang ini juga muncul transfeminisme, yaitu sebuah gerakan oleh dan untuk transpuan yang memandang pembebasan mereka secara intrinsik terkait dengan pembebasan semua wanita dan seterusnya. Gerakan transfeminis juga terbuka untuk para queer lain, orang interseks, pria transgender, perempuan non-transgender, dan orang lain yang bersimpati terhadap kebutuhan perempuan transgender dan menganggap aliansi mereka dengan transpuan sangat penting untuk pembebasan mereka sendiri. [31]

Walaupun gerakan transfeminisme sudah ada sejak tahun 2000, transfobia di kalangan feminis masih ada hingga saat ini. Sebutan untuk para feminis yang transfobik adalah trans-exclusionary radical feminist (TERF). Mereka adalah para feminis yang menolak untuk mengakui bahwa perempuan transgender (transpuan, male-to-female) adalah perempuan, mengecualikan perempuan transgender dari ruang perempuan, dan melawan hak-hak transgender.[32] Pandangan TERF seringkali bertentangan dengan pandangan feminisme arus utama, yang mana feminisme arus utama memandang gender sebagai konstruksi sosial, sementara TERF memandang gender hanya dari jenis kelamin (genitalia).

Salah satu bentuk transfobia paling kontroversial di kalangan feminis adalah buku “The Transsexual Empire: Making the She-Male” (1979) tulisan Janice Raymond, seorang feminis lesbian. Dalam buku tersebut, ia menyebut transpuan sama dengan pemerkosa karena “keinginan mereka menjadi perempuan”. Raymond mempopulerkan kata “shemale”, sebuah sebutan hina (slur) untuk transpuan yang mana ia mendefinisikan shemale sebagai “masih laki-laki dan merupakan serangan patriarki oleh laki-laki terhadap esensi perempuan”. Hingga saat ini, buku ini masih menjadi referensi bagi para TERF untuk menyerang hak-hak transgender.

Selain itu, keberagaman gender juga menghadapi tantangan di kalangan queer. Kelompok lipstick lesbian misalnya, mereka menolak butch (perempuan maskulin) dan transpuan untuk masuk ke dalam kelompok lesbian. Menurut mereka, adanya peran gender (butch-femme) dalam lesbianisme merupakan bentuk replika dari gaya hidup heteroseksual, sehingga mereka menolak untuk menghadirkan konsep butch-femme dan memilih untuk hanya mengkencani sesama perempuan feminin. Mereka juga menolak transpuan lesbian digolongkan dalam kelompok lesbian karena mereka menganggap transpuan lesbian adalah laki-laki.

Di Indonesia, peran gender yang kaku juga membuat butch mendapatkan diskriminasi. Oleh para lesbian, butch yang tidak mandiri secara ekonomi dianggap sebagai “buci numpang idup” (BNI). Padahal, ekspetasi kemandirian seseorang secara ekonomi tidak perlu dikaitkan dengan ekspresi gender. Selain itu, para butch juga sering ditolak untuk masuk ke toilet perempuan karena dianggap laki-laki.

Selain butch, laki-laki gay feminin juga mendapatkan diskriminasi dalam komunitas LGBT. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang tidak diinginkan dalam komunitas gay laki-laki. Bahkan ada klub gay laki-laki yang menolak laki-laki crossdresser karena penampilannya, sehingga dianggap “bukan laki-laki”. Dinamika kultur dalam komunitas gay laki-laki tidak lepas dari misogini, diskriminasi terhadap ekspresi gender feminin, dan diskriminasi terhadap role “bottom”.[33]

Adanya ketidakramahan terhadap keberagaman gender di kalangan queer dan feminis tentu menjadi suatu hal yang miris. Feminisme sebagai sebuah gerakan yang melawan patriarki seharusnya merangkul kelompok-kelompok yang ditindas oleh patriarki termasuk LGBTQIA. Terlebih lagi, menurut feminis Susan Stryker, feminisme gelombang pertama dan gerakan perjuangan hak transgender memiliki kesamaan dalam hal “mendobrak batasan konvensional keperempuanan”.[34] Selain itu, lingkungan queer seharusnya menjadi ruang aman orang-orang transgender dan gender non-conforming sehingga terciptanya kondisibebas dari stigma serta menjadi komunitas yang memperkuat solidaritas dalam melawan queer-phobia.

Beberapa buku feminis seperti The Second Sex (1949, Simone de Beauvoir) dan Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity (1990, Judith Butler), dapat dijadikan acuan dasar bagi para feminis untuk memahami perbedaan sex (jenis kelamin) dan gender serta menjadi landasan ideologis bagi gerakan untuk memperjuangkan hak-hak transgender. Para feminis sebagai orang-orang yang melawan patriarki dan para queer sebagai orang-orang yang ditindas oleh patriarki sudah seharusnya memperkuat solidaritas untuk melawan sistem patriarki yang menindas perempuan dan LGBT.


[1] John Zerzan, Patriarchy, Civilization, and the Origins of Gender (https://theanarchistlibrary.org/library/john-zerzan-patriarchy-civilization-and-the-origins-of-gender Diakses 5 Februari 2021)

[2] Venus of Willendorf – Britannica (https://www.britannica.com/topic/Venus-of-Willendorf Diakses 3 Februari 2021)

[3] World Images – Dogon Nommo Figure (Androgyne) (http://worldimages.sjsu.edu/objects-1/info/113491 Diakses3 Februari 2021)

[4] Nizmi Nasution dan Pungky Erfika Suci, Membicarakan Asal Usul Penindasan Perempuan (https://www.balairungpress.com/2017/02/membicarakan-asal-usul-penindasan-perempuan/ Diakses 5 Februari 2021)

[5] Stephanie Aulsebrook, Hatshepsut (https://dangerouswomenproject.org/2016/10/01/hatshepsut/ Diakses 5 Februari 2021)

[6]  Willeke Wendrich, Egyptian Archaeology, (Oxford: Wiley-Blackwell, 2010), hlm. 165

[7] Stephanie Aulsebrook, Loc.Cit.

[8] UNDP India, Hijras/Transgender Women in India: HIV, Human Rights, and Social Exclusion (https://www.undp.org/content/dam/india/docs/hijras_transgender_in_india_hiv_human_rights_and_social_exclusion.pdf Diakses 5 Februari 2021)

[9] Andrew Matzner, On the Question of Origins: Kathoey and Thai Culture (https://www.transgenderasia.org/paper_on_the_question_of_origins.htm Diakses 6 Februari 2021)

[10] Peter Jackson, Performative Genders, Perverse Desires: A Bio-History of Thailand’s Same-Sex and Transgender Cultures (http://intersections.anu.edu.au/issue9/jackson.html Diakses 6 Februari 2021)

[11] Ojanen, T. T. (2009). Sexual/gender minorities in Thailand: Identities, challenges, and voluntary-sector counseling. Sexuality Research and Social Policy, 6(2), 4–34. doi:10.1525/srsp.2009.6.2.4

[12] Jitsiree Thongnoi, Trapped beneath the transgender glass ceiling (https://www.bangkokpost.com/thailand/special-reports/584465/trapped-beneath-the-transgender-glass-ceiling Diakses 6 Februari 2021)

[13] Shani Rasyid, Mengungkap Sejarah Transgender di Jawa, Ini 5 Fakta Tari Lengger Lanang Banyumas (https://www.merdeka.com/jateng/mengungkap-sejarah-transgender-di-jawa-ini-5-fakta-tari-lengger-lanang-banyumas.html Diakses 6 Februari 2021)

[14] Ais Aljumah, “Keberagaman Gender dalam Suku Bugis dan Hal-Hal yang Luput” (https://etnis.id/keberagaman-gender-dalam-suku-bugis-dan-hal-hal-yang-luput/ Diakses 15 November 2020)

[15] Graham, Sharyn (2002). “Sex, Gender, and Priests in South Sulawesi, Indonesia“. The Newsletter. No. 29. International Institute for Asian Studies. hlm. 27

[16] Jumlah Bissu di Masyarakat Bugis Kian Menyusut (https://news.detik.com/abc-australia/d-4446562/jumlah-bissu-di-masyarakat-bugis-kian-menyusut Diakses 5 Februari 2021)

[17] BNPB Sulsel, Eksistensi Bissu di Bone Dalam Mempertahankan Nilai Budaya Lokal di Kabupaten Bone (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel/eksisten-bissu-di-bone-dalam-mempertahankan-nilai-budaya-lokal-di-kabupatem-bone/ Diakses 6 Februari 2021)

[18] Rilis Pers – Pembubaran Porseni Bissu/Waria: Pengingkaran terhadap Keberagaman Budaya dan Seksualitas (https://lbhmasyarakat.org/rilis-pers-pembubaran-porseni/ Diakses 6 Februari 2021)

[19] Genia Teresia dan Aisyah Sharifa, Monitoring dan Dokumentasi 2020: Pilu Pemilu Kelompok LGBTI dalam Politik Omong Kosong (https://lbhmasyarakat.org/wp-content/uploads/2020/12/Pilu-Pemilu-Kelompok-LGBTI-dalam-Politik-Omong-Kosong-Laporan-Mondok-2020.pdf Diakses 6 Februari 2021)

[20] Genia Teresia, Seni Monitor dan Dokumentasi 2019: Kelompok Minoritas Seksual dalam Terpaan Pelanggaran HAM (https://lbhmasyarakat.org/wp-content/uploads/2019/07/Laporan-Mondok-Stigma-dan-Diskriminasi-LGBT-2018_Finaleee.pdf Diakses 6 Februari 2021)

[21] Casamira Gita, Diskriminasi terhadap Transpuan di Indonesia (https://gshrudayana.org/2020/05/17/diskriminasi-terhadap-transpuan-di-indonesia/ Diakses 6 Februari 2021)

[22] Padawer, R. “What’s So Bad About a Boy Who Wants to Wear a Dress?“. New York Times. (https://www.nytimes.com/2012/08/12/magazine/whats-so-bad-about-a-boy-who-wants-to-wear-a-dress.html?pagewanted=all Diakses 6 Februari 2021)

[23] Rhoda K. Unger, Handbook of the Psychology of Women and Gender, (New Jersey: Wiley, 2001), hlm. 102

[24] Money, J.; Hampson, J. G.; Hampson, J. L. (1955). “An examination of some basic sexual concepts”. Bulletin of the Johns Hopkins Hospital. 97 (4): 301–319.

[25] Anne Fausto-Sterling, Sexing the Body: Gender Politics and the Construction of Sexuality, (New York: Basic Books, 2000), hlm. 70

[26] Anandya Mandal, “Hypothalamus Male and Female” (https://www.news-medical.net/health/Hypothalamus-Males-and-Females.aspx diakses 14 November 2020)

[27] Legato, M.J. ed., The Plasticity of Sex: The Molecular Biology and Clinical Features of Genomic Sex, Gender Identity and Sexual Behavior, (London: Academic Press, 2020), hlm. 49-50

[28] “Gender Dysphoria” American Psychiatric Publishing. (https://www.psychiatry.org/File%20Library/Psychiatrists/Practice/DSM/APA_DSM-5-Gender-Dysphoria.pdf Diakses 6 Februari 2021)

[29] Nicky Setyowati, Apa yang dimaksud dengan teori interseksionalitas (Intersectionality)? (https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-teori-interseksionalitas-intersectionality/4380 Diakses 6 Februari 2021)

[30] Jennifer Baumgardner, F ’em!: Goo Goo, Gaga, and Some Thoughts on Balls, (Berkeley: Seal Press, 2011 hlm. 250-251

[31] Emi Koyama, The Transfeminist Manifesto (http://eminism.org/readings/pdf-rdg/tfmanifesto.pdf Diakses 6 Februari 2021)

[32] Smythe, Viv (28 November 2018). “I’m credited with having coined the word ‘Terf’. Here’s how it happened”. The Guardian. (https://www.theguardian.com/commentisfree/2018/nov/29/im-credited-with-having-coined-the-acronym-terf-heres-how-it-happened Diakses 6 Februari 2021)

[33] Fajar Zakhri, “Kultur Misogini dalam Kelompok LGBT” (https://magdalene.co/story/kultur-misogini-dalam-kelompok-lgbt Diakses 8 Februari 2021)

[34] Stacey Gillis, dkk., Third Wave Feminism: A Critical Exploration (Expanded second ed.)., (London: Palgrave Macmillan, 2007), hlm. 59-70

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s